Postingan

mengecewakan

terlalu banyak faktor x di hidup ini demikian pula faktor diluar kendali kita atau di dalam kendali kita kita, yang tak bisa berjalan sesuai keinginan kita ritme akan kegagalan dan nasihat bualan menjadi 1 paket kekecewaan seperti hilang percaya, tersisa curiga kekecewaan seperti paku dengan apa kau sembunyikan lubang yang tertancap palu palu kehidupan intu? yang bolong, tetap bolong kecewa 1 kata, luar biasa kekecewaan bukan serta merta hadir dari susahnya daur ulang kepercayaan atau mungkin betul juga seperti batu yang terus menerus tertetes air akan bolong juga hilang sudah yang utuh, entah bahagimana cari kembali kecewa terhdap diri senidri berhasil membuat kita kerdil kecewa terhadap orang lain berhasul membuat kita angkuh kekecewaan dan mengecawakan

sesekali aku ingin egois

Sesekali aku ingin egois ingin menjadi yang marah karna semua dimataku parah, dan payah! aku ingin egois setelah sekian lama aku mampu menyembunyikan itu darimu dari semua orang Sesekali aku ingin egois ingin menyapa dunia bahwa aku tak selamanya bisa membuat semua orang bahagia di dunianya, di duniaku aku ingin menjadi yang mengaduh gaduh, ingin menjadi yang teriak sampai serak aku tak ingin menjadi yang diam, hanya agar amarah tidak semakin parah aku tak ingin menjadi yang acuh, meski sama sekali aku tak bisa menipu sesekali aku ingin egois menyadarkan bahwa selalu mengalah untuk semua yang disayang itu melelahkan aku ingin aku yang kamu tau bahwa aku egois, sama seperti kamu aku ingin sesekali ada amarah yang mengepul seperti semua yang pernah membuatku mengalah aku ingin menjadi yang egois yang nalarnya harus diterima lawan bicara yang dengung nya mengalahkan maaf berkali kali dariku yang keras nya lebih keras dari rasa bersalahku selama ini dan aku i

-

Now i broke again And feel the feeling i hate the most The feeling i think wont feel again The things i avoid to be faced If this love is going to hurt me once again Maybe later "love" gonna be the least word i believe in. May be later I understand that i do not deserve someone's love. May be later Ill live myself without no one.

Ibu Rumah Tangga yang bergelar Sarjana.

Mari mulai tulisan ini dengan quote : Education is the most powerful weapon which you can use to change the world."- Nelson Mandela. Artinya sangat jelas, pendidikan bisa membawa kita untuk berubah ke kehidupan yang lebih baik. Pengertian ini membuat banyak orang tua berlomba-lomba, -terkadang saling pamer anaknya berkuliah dimana- semata demi tujuan mendapat pengakuan akan kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan datang. Pendidikan menjadi platform untuk menunjukan bahwa diatas kertas kita diakui kepintarannya. Sekali lagi aku bilang, -diatas kertas-. Kenapa? Karna meski sekolah menjadi pintu mendapat pendidikan, tapi tak semua orang yang mengenyam pendidikan berpuluh-puluh tahun dapat mengubah dirinya, even change their own self. Dan tak terputus kemungkinan ketika ia tidak mengenyam pendidikan bergelar atau berkertas sertifikat, dia tidak pintar dan tidak sukses. Lantas, apa korelasi pintar dan sukses? Banyak. Banyak sekali. Dan untuk sukses bukan hanya itu korelasinya, ada

Pilih

Seiring waktu yang berlalu, aku berada pada pilihan. Memilih atau dipilih Lalu, Aku memilih untuk dipilih Hidup menjadi seorang wanita yang kelak akan melahirkan anak dari seseorang, sedikit banyak membuatku berfikir, terkadang wanita lebih baik dipilih daripada memilih. Dipilih oleh seseorang yang mencintainya dibanding memilih orang yang ia cintai, tapi tak bisa bersama. Terlintas bagaimana jika aku tidak dipertemukan dengan seseorang yang mencintaiku, tapi aku tidak mencintainya? Terlintas juga bagaimana jika aku mencintai seseorang yang tidak bisa mencintaiku.  Tidak.  Tidak ada salah dari mencintai dan dicintai. Cinta pada dasarnya sederhana, hanya saja manusia yang terkadang membuatnya rumit dengan penuh pertimbangan, yang wajar sampai tak semestinya dijadikan pertimbangan.  Kembali pada memilih dan dipilih, aku merasa dipilih oleh orang yang mencintaiku membuatku merasa lega dan aman. Setidaknya, hatinya untukku. Sisa hidupnya untuk keluarganya kelak bersamaku

Mengakhiri Cinta dalam 3 Episode

Gambar
Rio dan Ayu. Sudah berpacaran selama 8 tahun,  memutuskan untuk menikah dan sedang melakukan perjalanan. Saat menuju jalan pulang setelah perjalanan panjang, Rio berkata "yu, aku mau kita putus." Ayu yang -dengan-muka-ga percaya tapi sedih- pun bertanya "kenapa?" dengan muka kaku Rio bilang "Aku ga pernah cinta, dari pertama kali." Setelah delapan tahun -delapan-tahun- berpacaran, akhirnya mereka putus -saat bapaknya Ayu yang sakit udah kritis- dengan semua konsekuensinya. Tiga tahun berlalu, Rio dan Ayu berpisah. Dan suatu hari Rio datang ke tempat kerja Ayu, menyatakan perasaannya lagi. Bahwa selama ini Rio ternyata cinta, tapi dia bosan karna selalu bertengkar dan merasa gak cocok. Rio datang untuk meminta Ayu, berkata bahwa selamanya ia bersedia ada di kondisi apapun, seperti saat ia bersama Ayu. Dan Rio melihat Ayu sudah mengenakan cincin pernikahan. Ayu sudah menikah. Dengan pria satu tempat kerjanya Yang pernah mengejar Ayu, tapi Ayu memi

Bersyukur

Gambar
Dalam hidup yang-sering kali-tidak terkontrol lagi, aku lelah menjadi diriku. aku lelah menjadi seseorang dengan banyak mimpi mimpi dan keinginan. Mimpi yang terkadang sangat mudah dilakukan sampai yang sangat sulit di wujudkan. Sederhananya, aku berharap hidupku akan-selalu- baik-baik-saja. Sulitnya, itu tak akan terwujud. Mimpiku yang sederhana tergabung dalam ketidakmungkinan (dalam kesederhanaannya). Seiring waktu berjalan, dengan banyaknya hal-hal yang sebenarnya aku benci, aku jadi semakin mengerti banyak hal. Semakin memahami makna kehidupan yang terkadang lucu dalam ketidaklucuannya ini. Aku membenci hal-hal sulit yang harus aku alami Aku menghindari pertikaian, baik terhadap diri sendiri, ataupun orang lain Aku mencoba untuk tidak mengambil resiko-resiko yang bisa saja terjadi dalam hari-hariku. Tapi sungguh benar. Kita bisa berencana, Tuhan tetaplah yang menentukan. Aku ingin berjalan sejauh-jauhnya, makan sebanyak-banyaknya, tidur selama mungkin, dan bahagia sebanyak