Postingan

Menampilkan postingan dengan label Jurnal sehari-hari

(ke)tulus(an)

Gambar
Entah apa yang akan aku ceritakan tentang kata ini. singkat tapi sangat sulit di definisikan. Apa kamu tahu? “something you cant touched by hand or listened by ear,but can felt by heart so it makes you to be known by their own heart too.” Itu makna tulus yang ku definisikan sendiri. Jika berbicara ketulusan,memang sulit. Dimana tak ada perasaan jumawa apalagi munafik. Terkadang imbas ketulusan tidak disadari tapi benar benar terjadi. Aku tak akan menyebut ini tulus,tapi hanya salah satu bentuk rasa bahagia tanpa kecuali. Ketika itu aku pergi mengunjungi rumah adik adik tempat aku biasa mengajar. Satu persatu aku dan senior ku melihat keadaan rumah mereka dan berbincang dengan orang tua atau nenek mereka masing masing. Aku berkunjung ke rumah Devi. Rumahnya tidak terlalu buruk,malah lumayan mampu untuk ukuran anak anak desa. Tapi ternyata bapaknya adalah tukang ojek dan ibu nya buruh pabrik. Tiap malam bapak nya menjemput   ibu di   gerbang pabrik dengan motor. B...

hai,adik adik.

Hari ini setelah sekian lama,aku kembali mengunjungi Paud informal tempat ku berbagi tawa dan belajar tentang kehidupan dari anak anak Desa Suka Negla,Jatinangor. Lebih dari dua bulan aku tidak berkunjung kesana walau sekedar melihat. Sengaja aku memilih berjalan kaki untuk sampai kesana,tidak menggunakan jasa ojek. Aku ingin kembali menikmati hawa sejuk desa itu,melihat Gunung Geulis dengan jelas,menapaki jalanan yang kanan kiri nya terhimpit student apartment. Sawah yang dulu hijau terhampar,kini hanya bersisa beberapa petak saja. debu menjadi teman sampai ke tempat itu. Saat beberapa langkah lagi aku sampai,terdengar suara pembawa acara dengan bahasa setempat. Ah ternyata ada panggung sebagai puncak 17 Agustusan kemarin. Jujur,aku bahagia melihat itu. Bahagia karena masih ada yang memperhatikan bangsa ini walau hanya panggung sederhana. Saat sampai,alangkah bahagia nya lagi ketika salah satu anak laki laki(aku lupa namanya) spontan memanggil ku “Kak Valen!” ia tersenyum lebar...

sebuah nama sederhana.

Aku kembali dengan sebuah cerita. Cerita tentang hidup yang tak semudah yang kita sebut “hidup” itu sendiri. Satu cerita dari satu anak perempuan manis. Perkenalkan,Nama nya Priska. Anak perempuan yang berusia sekitar 5-6 tahun. Berbadan “montok” untuk usianya,rambut pirang ala anak kampung se-bahu,kulit hitam manis,dan mempunyai gigi yang hampir semuanya karies.   Aku bersama   teman temanku mengajar di suatu tempat Pendidikan Anak Usia Dini non formal. Kebanyakan dari kami mungkin hanya ingin sekedar membunuh waktu yang nampaknya terlalu sia sia jika hanya dihabiskan di kost-an. Ada pula yang benar benar ingin mengabdikan dirinya di lingkungan sekitar. Aku?aku   terlalu malas untuk ikut berorasi sambil memegang Toa besar-besar,mungkin tempat ini menjadi salah satu sarana ku untuk mencoba “hidup yang lain.” Aku mulai mengenal Priska ketika aku pertama kali berkunjung ke PAUD. Senior ku bercerita tentang beberapa anak dengan masing masing ciri khasnya. Ada ...