Postingan

Tuntutan

Menjadi seorang manusia, tentu di tuntut atau seringkali menuntut. Entah oleh oranglain, ataupun di tuntut oleh diri sendiri. Terkadang, di tuntut diri sendiri lebih sulit dibanding di tuntut oleh oranglain. menjadikan diri sendiri subjek dan objek dari sebuah tuntutan tentu bukanlah hal yang mudah. butuh kedewasaan dan pertimbangan paling adil yang akan berakibat untuk diri sendiri. telah melalui hidup ini untuk lebih dari 20 tahun sejujurnya masih membuatku merasa miskin ilmu. entah ilmu dunia, terlebih lagi ilmu akhirat. merasa belum pernah cukup, dan perasaan ini bertambah setelah membaca banyak buku, baik yang berkaitan dengan hidup ataupun kematian. tapi kemudian, selama fase kehidupan ini tentu aku sudah mengalami banyak kejadian pendewasaan diri. mungkin untuk orang yang mengenalku dengan baik akan paham rasanya dekat denganku. kadang menjadi sangat manja, atau menjadi sangat bijaksana. bisa menjadi terlihat pintar atau tidak segan bertindak bodoh. Atau aku menjadi orang ya...

Question.

At once of your life, you will tired for being yourself. Either you wanna stop it, or survive more. At one stage of your life, you will ask "what's the purpose of this life?" We can't calculate how strong we are, or how hard being ourselves. Again, we will ask "do i mean something, for at least, someone?" Carrier, family, friends, money, partner, are so temporary. We can hold them, but never having them. At the end, you will know that you have nothing. N o t h i n g. You will think life is too hard, to be face alone. So you need someone else make you strong. But you will, at the end, understand, I actually don't need someone perfect, you need someone who accept you, literally. Although (s)he have known the worst of yours, or how hard to understand you, (s)he always be there. No matter how hard it is. Oh sadly, I wish someone accept me, too. And.. One time you will imagine But Do I deserve it? Tng, 27 Jan 2018

Ibu tugas dimana?

Ibu saya, karena pendidikan formalnya, seringkali malu dan minder kalau bertemu teman-teman saya. Beliau selalu merasa rendah diri karena tidak sekolah. Menyandang predikat lulus SD saja, itupun dengan ijazah yang tidak jelas di mana, membuat beliau seringkali merasa tidak pantas berada di antara teman-teman saya yang kebanyakan bersekolah tinggi. Itu pula sebabnya, ibu saya merasa cukup hanya dengan mendengar cerita saya ketika saya sekali waktu mengisi seminar, ikut konferensi atau mengisi workshop. Matanya akan berbinar-binar bahagia mendengar cerita saya soal peserta, soal diskusi di kelas dan soal apa saja yang terjadi. Ada kebahagiaan hanya dengan mendengar dan membayangkan. Beberapa waktu lalu saya diminta mengisi acara di Politeknik Negeri Bali (PNB) terkait batas maritim dan perdagangan internasional. Materinya cukup baru sehingga saya harus menyiapkan dengan usaha ekstra. Meski begitu, saya tentu tidak akan pura-pura menjadi ahli perdagangan internasional. Saya siapkan mat...

Sepertinya..

Banyak yang mempersiapkan pertemuan, tapi lupa mempersiapkan perpisahan. Kita semua fasih menafsirkan seperti apa rasanya pertama kali bertemu, tapi kelu saat harus memutuskan berpisah. Ada yang sampai tak mampu bertemu, karna ingin membicarakan perpisahan. Dengan saksi meja makan &makanan yang basa basi kita pesan. Agar saat air mata mulai turun ketika melihat matamu, mataku langsung melihat ke arah makanan, berusaha memakannya, meski sebenarnya bernafaspun sesak. Kita semua siap jatuh cinta, tapi tak pernah siap-siap untuk patah hati. Kita semua hanya tahu merah jambu, lupa warna abu yg kelabu. Kita semua. Ya, kita Semua. Terlalu cepat rasanya bertemu, tapi lebih terlalu cepat rasanya mengetahui kita akan berpisah. Ruang yang beda, meski waktu yang terlampau jauh berbeda. Atas segala tawa, canda, hingga air mata. Baju putih malam ini jadi saksi kita. Betapapun saat ingin berpisah, kita tetap mencoba senada dalam warna. Ada pertemuan, ada perpisahan. Just le...

just waiting.

benar ternyata. hidup ini hanya perkara menunggu. menunggu pagi setelah malam menyelimuti, menunggu maghrib setelah ashar, menunggu pergi setelah kembali, menunggu apapun itu; make sure it worth it to be waited. seperti aku yang menunggu kamu, meski tak kau bilang akan kembali lagi. aku tetap menanti hari-hari kamu kembali. dari semua keriuhan hari-harimu disana, yang tak lagi ku ketahui. apa kamu tau apa yang lebih menyebalkan dari tidur yang diganggu? adalah menunggu, terlebih menunggu kamu. jika cinta itu sudah menjadi tabu, lalu apa lagi yang seharusnya ku harapkan darimu? bukankah jelas? setiap hari kita hanya menumbuhkan luka dan menghancurkan bibit-bibit bahagia. kita tak lagi sama, aku dengan duniamu, dan kaupun begitu. menunggu. apabila menunggu adalah tabu, sudah berapa dosa yang aku lakukan demi kamu? apabila mencintai adalah hutang, sudah berapa miskinnya diriku ini, demi kamu? apabila mencintai adalah benci, sudah berapa gunung api yang meletup-letup tak berdaya m...

Belajar (lagi)

Bulan ini sudah memasuki bulan yang seharusnya menjadi musim hujan. basah dan kehujanan pasti aku alami. maklum, aku bukan naik mobil, tapi naik motor. cukup motor. but it doesnt matter . setelah ke suatu tempat, dengan sedikit nyasar, dan datang ke tempat 5 menit sebelum telat, aku bersyukur Tuhan masih memberiku kesempatan untuk tetap tepat waktu, dengan predikat hampir  telat. sepulang dari tempat itu, aku berkunjung ke rumah teman lamaku. hasilnya, banyak sekali pelajaran dan makna disana dan tempat lain yang kami kunjungi. Ternyata, aku sudah lama tidak melihat tanah kosong, aku bahagia melihat kandang ayam, aku senang melihat hiruk pikuk kota, ojek online, ibu-ibu mencuci piring, dinginnya kota, berisiknya anak-anak. aku bahagia melihat tiap sudut kota secara abstrak. banyak makna, tapi kita kadang lupa. banyak tawa yang kita lewatkan begitu saja, karena berfokus pada luka.  malam ini, malam dan dingin kota ku menjadi lebih indah dan bermakna. apa sudah sangat l...

cinta

semakin aku mencari cinta, aku semakin tak mengerti. cinta yang terlihat rumit, ternyata sederhana. yang terlihat sederhana, ternyata tak sesederhana itu. pernah aku berfikir cinta itu hubungan take and give. harus memberi sebanyak kita menerima, atau menerima sebanyak hasil pemberian kita. tapi tunggu dulu. ini cinta, bukan jual beli. terkadang banyak cinta yang kadarnya tak sama. hanya saja, kita tak tau kadar cinta siapa yang sebenarnya lebih banyak di antara kita. perihal cinta, adalah cinta, bukan judi, bukan jual beli, bukan pula barter.  salah satu bagian terumit dalam mencintai adalah berharap. upaya kita kadang merasa sudah besar, sudah totalitas. dan bertanya, mengapa aku hanya mendapat seperti ini? mengapa banyaknya cintaku dibalas cinta sekedarnya olehmu? padahal, bisa jadi. cinta sekedarnya itu adalah cinta terbaik yang bisa ia berikan. sehingga yang hadir adalah harapan-harapan semu, tak jarang harapan itu tak memiliki titik temu. kecewa? itulah akhirnya.  ...